Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Coretan

Pulanglah

Pulanglah. Kutulis kata-kata yang lama terpendam --terkubur dalam nalar yang diam. Suar hati yang kian meredup padam, hanya menyisai pendar dari nyala sukma yang berguncang --tertiup angin kencang, dalam rintih lirih di penggalan malam; menahan gigil, mendekap bisu, memeluk beku, megusir ragu. Kupanggil dari kejauhan. Tak ada sahutan, suaraku tertelan oleh teriakan-teriakan. Bising di sana membuat pusaran; Aku atau Kamu! Tak adakah pilihan kembali seiring sejalan, menyulam langkah seirama, mengunyah tawa bersama, dalam renyah canda yang mesra? Kudengar, ketukan waktu kian mendekat. Kulihat, orang-orang berbaju cokelat sibuk bertanya, orang-orang berjubah hitam bergegas memegang palu --bersiap memutus rantai yang mulai berkarat, menggalikan lubang untuk persaudaraan yang sekarat. Dalam doa yang kaku, kutekuk wajah yang tetap tak mampu menikam rindu. Nanar menatap dalam bening yang hangat, ku berbisik lekat pada nama yang bersekat,

Semester Baru, Semangat Baru, Doa-doa Baru

Tim BCT Bimbel Hafara Semester Baru, Semangat Baru, Doa-doa Baru -  Semester baru, semangat baru, dan bersiap menulis cerita yang berbeda. Hari yang baru di Bimbel Hafara ini diawali dengan Raker (Rapat Kerja) Tentor, untuk mempersiapkan semangat dan memadukan tekad memberikan yang terbaik untuk siswa-siswi Hafara di semester genap tahun 2018. Spesialnya, banyak rekan kerja yang bertambah, bagai kedatangan warna-warna yang membuat suasana kerja kian indah. Sahabat jadi makin banyak, dan silahturahmi pun kian erat saat Manajer SDM kami, memperkenalkan mereka di pembuka acara. Tapi di sisi lain, ada juga haru yang membiru, karena seorang rekan lama harus berpamitan. Bukan, bukan karena tak mau membersamai,  tapi jatah waktu untuk bersama dari-Nya, sampai disini. Ya, dia adalah Kepala Cabang Hafara Wolter Monginsidi, Luvian Hendri. Tapi jangan khawatir, kita hanya dipisahkan tempat bekerja saja kok. Karena sejatinya sebuah persahabatan memang tak akan pernah usai, meski m

Memilih Menjadi Abdi Negara

Teman-teman Seperjuangan Angkatan 2014 Memilih Menjadi Abdi Negara -  Kami, lulusan Tes CPNS untuk pemerintah daerah tahun 2014, adalah angkatan terakhir sebelum moratorium penerimaan PNS diberlakukan. Sudah hampir 4 tahun sebelum akhirnya beredar informasi bahwa akan dibuka kembali rekrutmen Tes CPNS pada bulan Februari atau Maret 2018. Rasanya sudah rindu untuk punya "adik kelas" di kantor. Begitu jika sedang punya waktu senggang dan mengontrol santai dengan teman-teman satu angkatan. Karena sampai sekarang, kami ini yang paling muda. Junior dari sisi usia menjadi seorang abdi negara. Gak enak kelamaan jadi anak bungsu. Oya, sebelumnya, bulan-bulan akhir 2017 kemarin, sudah dibuka untuk penerimaan CPNS kementerian. Informasinya, akan dibuka ratusan ribu kursi untuk tahun ini. Mayoritas diperuntukkan bagi CPNS Daerah, dan lainnya CPNS kementerian. Semoga segera terlaksana, karena itu berarti kami akan segera punya "adik". Bagi masyarakat lua

Cinta Dalam Setangkai Mawar Yang Patah

Cinta, jejak rindu tanpa rasa. ruang mesra yang hampa. Kulukis ia dengan air mata. Kusimpan pada setangkai mawar dibalik punggung, Biarkan durinya munusuk; perih menyerpih. Ia, yang kutikam berulang kali dengan belati; agar mati, tapi tetap tak bisa. Sia-sia saja. *** Mataku nanar menatap pigura coklat di sudut meja segi empat tempatku biasa membaca. Aku terdiam sejenak. Menatap potret yang ada di dalamnya. Mengenang kisah lama yang ada di sana. Kisah dalam sendu yang basah. Tanpa sadar, titik kristal bening mulai menggenang tipis di sudut mataku. Menggumpal. Lalu menggantung tak tertahan. Hingga akhirnya kubiarkan ia jatuh menumpahkan rindu. Dalam diam, dalam isak.  Seperti gerimis di luar sana. Rintik airnya adalah isyarat perjumpaan. Tentang langit yang merindu akan bumi. Meski tak berjumpa dalam sentuhan, ia mengirimkan pesan lewat tetesan. *** Sebenarnya, perjumpaan dengannya bukanlah sebuah kesengajaan. Laki-laki mengesankan yang tak

Full Approved

Full Approved - Bagi blogger pemula seperti saya, mungkin ini salah satu momen penting yang sangat dinanti. Apa itu? Mendapatkan kiriman email dari Google Adsense, "Selamat! Akun Anda kini telah disetujui sepenuhnya." Hurraayyy :D Blog ini (http://arif-budiman.com) awalnya saya buat mendadak meski sudah lama merencanakan punya blog yang ber-domain. Hingga akhirnya, 5 Desember 2017, saya putuskan membeli domain. Kalau kata temen, ini jenis TLD (Top Level Domain). Dan dengan bantuan seorang teman yang sangat baik, dipasanglah domain ini hingga bisa diakses khalayak ramai. Rasanya ternyata wah. Punya nama sendiri yang dikasih embel-embel dot com (.com) itu.  Niat utamanya dulu buat blog biar makin semangat menulis. Karena buat saya waktu itu, nulis dan ngeblog adalah aktifitas yang sama. Ternyata oh ternyata, konsisten dalam menulis itu tak mudah. Meski punya blog 'yang ada namamu'. Setelah satu tahun, produktivitas saya tak sampai 2 artikel per bul

Sepasang Kaos Kaki Yang Malu-Malu.

Sepasang Kaos Kaki Yang Malu-Malu. Aku terpaku dan termangu, menatap sepasang kaos kaki yang malu-malu itu. Ah, apakah bisa disebut sepasang jika ia tak sama, tak serupa, tak senada? Ingin terbahak rasanya saat menyadari keanehan yang terjadi di dalam celana panjang ini. Tapi kutahan untuk menertawakan diri sendiri. "Sabar, ini ujian!" :D Langsung aku berdiri. Saat sebelumnya sedang asyik duduk menunggu apel pagi bersama rekan sekantor. Entah ada yang melihat atau tidak, aku pura-pura tidak terjadi apa-apa. Haha. Setiap langkah menjadi sangat berhati-hati. Benar-benar dihitung. Celana dasar hitam abu-abu yang agak panjang ini lumayan membantu. Menutupi rasa malu yang lucu. Entah bagaimana ceritanya pagi tadi bisa menyambar sepasang kaos kaki berbeda. Mungkin buru-buru, atau mungkin gagal fokus. *ada KUA? #ehh Ada *qua? Satu abu-abu, satu coklat bergaris putih dan merah. Seputih wajahku yang sekelebat memucat. Semerah mukaku yang merona malu. Mimik

menang.

Menang. Menang. Rasanya senang tak berbilang. Girang bukan kepalang. Seolah ingin bersulang. Dengan gelas-gelas piala dibawah lampu benderang. Suasana hati pun teramat riang. Seperti malam-malam penuh bintang. Lalu lampu sorot mengarah padamu, menerpa wajah sumringahmu. Silau. Terang. Seketika kamu berada di panggung penghargaan. Namamu dipanggil dalam riuh dan gemuruh tepuk tangan. Diiringi alunan musik yang berdendang. Ada piala dan podium sambutan. Ada histeria saling bersahutan. Dan kamu berdiri tegak dengan mikrofon dalam genggaman. Tersenyum sejenak lalu bersuara, lantang. Tiba-tiba lampu-lampu padam. Semua gelap kecuali nyala hatimu. Aku dimana? Tanyamu ragu. Tak lagi ada suara-suara. Tak ada keramaian. Sunyi. Semua hilang. Menang, memang memberikan kesempatan untuk menjadi besar. Tapi juga memberi celah yang sama besar untuk menjerumuskan. Tenggelam dalam pusaran pujian. Dimana hatimu yang bersih tetiba murung saat tak ada lagi yang memuji? Diman

Kalah.

Kalah. Ternyata seperti ini rasanya kalah. Seolah mimpi-mimpi rebah dan harapan patah. Tergugu dalam sedu sedan dan tangis yang tumpah. Tapi aku memilih untuk tetap melangkah. Melangitkan mimpi dalam ketundukan yang pasrah. Bukankah Tuhan masih memberikan dua tangan untuk tengadah? Maka tak perlu hilang arah dalam kesedihan yang basah. Ingatlah, ada janji-Nya tentang dua kemudahan yang mengapit jalan hidupmu yang susah. Dan teruslah melangkah, meski patah-patah. Buat kalahmu hanya sementara singgah. Lalu kembali kau papah harapan menuju cahaya yang membuat jalanmu terarah. . . 02/01/2018 @30haribercerita 

Setelah Pesta Usai

2017 Empat angka itu berurut menjadi satu. Utuh dalam maknanya yang kini tertangkup. Tak lagi bisa dibuka, kecuali hanya belajar tentang arti kisah yang ada di dalamnya. Layarnya kini telah tertutup. Dan semua cerita yang tertulis telah dianggap cukup. Atau dicukupkan, jika nyatanya masih banyak hal yang dianggap kurang. Pesta gegap gempita semalam menjadi pertanda akhirnya. Hitungan mundur dalam dentuman suara yang mengguntur di udara. Seketika, saat langit penuh kerlap warna, lalu membias merah di cakrawala. Ramai jeritan terompet menambah semarak, juga membuat sesak telinga. Mendekatkan detik pergantian tahun yang tak lagi berjarak. Lalu. Pesta pun usai. Gegap gempita ditelan dingin gulita malam seketika. Pudar bersama atap langit yang tak lagi berwarna. Kemanakah hilangnya? Tentu semua kembali pada fana. Ramai sesaat saja, lalu melesat pada hening. Adakah hati yang kembali bening? Memang, tak ada pesta yang tak usai. Dan perjalanan haruslah terus be

Sepotong Makna Rezeki Pada Sepiring Kecil Kue Terakhir Sesi Coffee Break

Sepiring Kecil Kue | dokumentasi pribadi Rezeki. Dalam konteks keyakinan, rezeki mungkin mirip sepiring kecil potongan kue terakhir di atas meja ini. Apa pasal? Pagi ini memang tak sempat sarapan. Biasa, karena sukanya buru-buru kalau mau ada acara. Plus sedang berniat pula mengurangi asupan kalori (sambil mengingat program diet yang selalu gagal). "Toh ada kue coffee break kan pasti nanti di acara." Yakin banget ya. Hee. Saat memasuki sesi coffee break setelah pembukaan acara, saya berbincang asyik dengan sosok inspiratif yang saya kagumi melalui tulisan-tulisan menggugahnya yang banyak di-posting di akun FB. Postingan yang mengundang banyak komentar bernada pujian. Siapa dia? Namanya Tri Sujarwo Songha, pemilik akun IG @tri27sujarwo (monggo di-follow hee), yang sedang ditunggu oleh khalayak ramai karya bukunya tentang kisah haru dan inspiratif saat mengajar anak-anak Papua. Kebetulan beliau sedang di Lampung karena bertepatan dengan satu minggu jadwal li

Yes! I'm Happy!

Yes! I'm Happy! | Dokumentasi Pribadi Yes. I'm Happy!   Jujur. Menang itu rasanya senang tak berbilang. Riang bukan kepalang.  Di sore itu, selepas sholat Ashar di masjid kantor. Saya sedang ayik berbincang dengan seorang teman. Tetiba, ada notif masuk dari akun IG @nuliseuy yang membuat saya terkaget. Tumben. Ada apakah gerangan? Wah, jangan-jangan. Hee. Tak berapa lama, muncul tag dari akun IG @nulisyuk, yang sedang saya ikuti kelas menulis online-nya. Waduh, sepertinya benar. Makin sumringah dah :D Jeng jeng. Saya buka satu-satu akun yang me-mention dan men-tag itu. Dan benarlah praduga itu. Alhamdulillah, terpilih sebagai salah satu dari empat pemenang challenge #motivatorterbaik yang diadakan oleh akun IG @nulisyuk. Wuuiihh. Senangnyaaa. Lebay kali yah. Haha. Tapi beneran saya senang bukan kepalang. Gak bisa nyembunyiinnya. Saat pulang kantor, riang itu masih lekat membayang. Bahkan gerimis di sepanjang perjalanan itu pun tak mampu melunturkan rasan

Bersuaralah Kata-kata

Bersuaralah Kata-kata | Dokumentasi Prbiadi Benar katamu. Hujan tak menghalangi. Ia hanya membasahi.  Seperti sore ini. Pemilik jiwa-jiwa tulus itu memilih diam tak beranjak. Memilih sabar tak melangkah. Memilih bersama derai hujan yang membasahi. Lihatlah. Ada yang berpayung. Bermantel hujan. Atau lebih suka berbasahan. Menikmati hujan yang mengantarkan keberkahan. Saat pintu langit terbuka. Bagi doa-doa untuk saudara kita di Palestina. Di panggung orasi. Hujan justru menyemangati. Maka bersuaralah kata-kata. Untuk membuat dunia tahu bahwa Palestina ada.  Maka bersuaralah kata-kata. Untuk membuat dunia mengerti bahwa Palestina tak sendiri. Boleh Amerika menganggap dirinya negara digdaya. Tapi ada saatnya kelak, kedigdayaan akan bertekuk lutut di hadapan tekad yang membaja.  Siapa yang menyangka kisah Raja Abrahah dengan pasukan gajahnya, berakhir di tangan si kecil Ababil? Sebuah tanda bahwa kuasa manusia hanyalah secuil. Kita lihat nu

Memilih Tak Menyerah

Suasana Tes | Dokumentasi Pribadi Waktu bergerak cepat. Detik-detik bagai berlarian kencang. Begitupun menit yang berjingkatan riang. 250 soal, 180 menit. Benar-benar tes yang menguji banyak hal. Kecepatan, ketepatan, kesabaran, mental dan daya tahan. Dan satu hal yang tak saya prediksi, tingkat kesulitan soal yang diatas rata-rata. Saya sudah membaca dan berlatih dengan empat buku berbeda. Mempelajari teorinya, mengerjakan latihan soalnya, juga melakukan simulasi Try Out real-nya. Tapi semua seolah tak ada arti. Sejak soal bagian pertama, pipi saya seperti ditampar bolak-balik. Semakin mengerjakan, semakin keras tamparannya. Benteng mental saya seperti dilontari batu-batu besar menggunakan mangonel. Meninggalkan lubang menganga dan remuk sana-sini. Memasuki bagian kedua, soalnya lebih "gila". Kesulitannya dua-tiga kali dari latihan. Meninggalkan banyak bulatan kosong di lembar jawaban. Ambrol keyakinan saya pada titik nadir. Ditengah waktu yang

Indonesia Bisa, Indonesia Juara (Sepucuk Surat Untuk Membela Indonesia di Tahun 2018)

Owi-Butet "Para Juara" | sumber : www.asiangames2018.id Apa Rasanya Menjadi Juara? Apa rasanya menjadi juara? Berdiri di podium yang tinggi. Ditonton berjuta pasang mata yang menatap gembira. Diberi puja-puji sana-sini oleh pembawa acara. Apa rasanya menjadi juara? Menatap sumringah jejeran medali dan piala, yang sudah menunggu pemiliknya sejak lama. Untuk diserah terimakan dan dibawa pulang dengan penuh bangga. Apa rasanya menjadi juara? Dalam sorak-sorai dan gegap gempita. Merah putih berkibar gagah di angkasa. Diiringi lagu kebangsaan yang berkumandang syahdu di udara. Apa rasanya menjadi juara? Terkenal dimana-mana. Diundang Bapak Presiden atau televisi swasta dan berbagai acara. Diliput bertubi-tubi oleh media nasional maupun manca negara. Apa rasanya menjadi juara? Diidolakan banyak remaja. Dijadikan panutan oleh kawula muda. Dielu-elukan generasi tua. Digandrungi semua usia. Ilustrasi Latihan Atlet Memanah | sumber : @asiangames2018