Skip to main content

Posts

Featured Post

Yogya, Aku Datang Melangitkan Asa

  Yogya, Aku Datang Melangitkan Asa Yogya, Mimpi 16 Tahun Lalu.. Kisah ini, bermula dari mimpi 16 tahun lalu. Tentang cita-cita untuk bisa menjejakkan kaki dan menimba ilmu di sini, di kota yang mahsyur dengan sebutan “kota pelajar”, Yogyakarta.  Saat berseragam abu-abu itu, keinginan terasa begitu kuat. Hingga lebih memilih merubah pilihan pertama hasil konsultasi penjurusan PTN dengan tentor pembimbing di Bimbel tempat saya belajar. Dari Bio Kimia IPB, menjadi Teknikk Elektro UGM. Ya, tepat pada detik-detik akhir sebelum mengumpulkan formulir pilihan jurusan, saat akan mengikuti SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) pada tahun 2002. Meski lulus SMPB, ternyata doa untuk bisa belajar di kota ini belum terkabulkan, "hanya' lulus di pilihan kedua. Mungkin doa itu masih Allah Swt simpan di suatu tempat. Dan harus menerima kenyataan, untuk tetap belajar di tanah kelahiran, provinsi Lampung tercinta. Sempat merasakan kecewa, tapi akhirnya belajar untuk terus memeluk kesyukuran,
Recent posts

Idul Fitri di Masa Pandemi: Sebuah Catatan Menyambut Lebaran Tahun 2020

Idul Fitri di Masa Pandemi Idul Fitri di Masa Pandemi: Sebuah Catatan Menyambut Lebaran Tahun 2020 Tentunya akan ada yang berbeda pada Idul Fitri 2020 ini. Tahun ini menjadi tahun yang ditahbiskan penuh dengan perenungan: kehilangan, keikhlasan, kesabaran, dan juga menyisipkan pesan semangat untuk bangkit. Pandemi covid-19 yang mulanya hanya dianggap sebelah mata oleh banyak kalangan, kini menjadi bencana yang telah merengut ratusan ribu jiwa, termasuk di Indonesia. Kasus corona yang pertama kali diumumkan di awal bulan Maret, kini sudah mencapai lebih dari 20.000 pasien positif dan tak kurang dari 1000 nyawa telah direnggut, termasuk diantaranya para petugas medis. Bencana yang tak kalah menyedihkan adalah mulai hilangnya kepercayaan antar elemen bangsa ini. Tagar #IndonesiaTerserah yang trending beberapa waktu terakhir ini menjadi salah satu pertandanya. Betapa tidak, di saat sebagian masyarakat menahan diri berbulan lamanya untuk #StayAtHome, shalat Jumat dan Tarawih di ruma

Bulan Berkah dan Malam-malam Wabah

Bulan Berkah dan Malam-malam Wabah Bulan Berkah dan Malam-malam Wabah Ada resah yang singgah. Kala malam-malam wabah datang dengan pongah. Menyerang dengan garang jutaan nafas kehidupan dari segala arah. Ratusan ribu nyawa rebah dalam kantong jenazah, lalu terkubur tanah merah. Sementara di kejauhan, suara ratapan pecah berbalut tatapan mata yang basah. Ada resah yang singgah. Kala bulan berkah terusik tragedi yang kini menjadi pandemi. Tak lagi kulihat masjid yang biasanya ramai dengan suara anak-anak kecil berlari. Tak lagi kudengar sahut-menyahut suara mengaji dari surau-surau yang berlomba melantunkan ayat suci. Semua diam terkunci rapat dalam masa karantina mandiri. Mengasingkan diri dari keramaian agar pandemi ini segera mati. Dan matahari terus mendaki, membawa hari-hari berlalu tanpa ragu. Menyisakan pucuk rindu yang belum tuntas bertemu hingga penghujung waktu: pada Ramadhan yang sedang bertamu. Hari ini, tak terasa malam terakhir datang berkabar: tamu agung itu akan kemb

Belajar Seru, Semangat Kembali Menggebu

Belajar Seru, Semangat Kembali Menggebu KulWapp Tapis Blogger Well, akhirnya menulis lagi. Setelah sekian lama. Dan seperti kembali dejavu, karena dulu pernah juga berujar seperti ini. Tapi ya tak apa, semua tetap membutuhkan waktu untuk kembali belajar. Lagi dan lagi. Tanpa kata menyerah dan putus asa. Tak punya waktu selalu menjadi alasan klasik. Atau takut fokus nanti terbagi karena memang ada aktivitas lain yang tampaknya lebih utama. Tapi lagi-lagi, seharusnya menulis justru menjadi cara tersendiri untuk melemaskan otot-otot pikiran yang terlalu lama berkutat pada hal yang sama. Atau semacam kanvas yang mampu menuangkan warna-warna yang ada di dalam kepala, yang sudah terlalu penuh dengan segala isi rupa dunia. Pelan namun pasti, seperti ada kesimpulan yang sama. Menulislah, sesibuk apapun kamu di sana. Menulislah tanpa perlu diminta. Kesempatan ini kembali datang saat Tapis Blogger kembali mengadakan KulWapp alias kuliah melalui media WhatsApp. Media sosial yang s

Puas Liburan di Malang, Oleh-Oleh Khasnya Jangan Lupa Dibawa

Puas Liburan di Malang, Oleh-Oleh Khasnya Jangan Lupa Dibawa Nama Malang kini kian ngehits. Bukan hanya sebagai tujuan liburan, tapi banyak juga yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang ada di salah satu kota di Jawa Timur. Nggak heran jika kini jadwal pesawat ke Malang terus bertambah. Peningkatan jumlah penerbangan juga membuka kesempatan besar perang harga, yang membuat tiket ke Malang menjadi lebih murah. Apapun tujuanmu, kurang pas rasanya jika pulang tanpa membawa oleh-oleh khas kota Malang yang punya banyak macam! Malang Strudel sumber: myjavastrudel Termasuk pioner oleh-oleh artis kekinian, camilan berbahan utama pastry ini dimiliki oleh Teuku Wisnu. Kue berlapis yang berasal dari Austria ini dimodifikasi sedemikia rupa sehingga citarasanya cocok untuk lidah orang Indonesia. Bukan hanya isian apel saja, kini kamu bisa memilih varian lainnya seperti pisang, nanas, cokelat, hingga stroberi. Kemasannya yang praktis dan modern pun nggak akan menyu

Pulanglah

Pulanglah. Kutulis kata-kata yang lama terpendam --terkubur dalam nalar yang diam. Suar hati yang kian meredup padam, hanya menyisai pendar dari nyala sukma yang berguncang --tertiup angin kencang, dalam rintih lirih di penggalan malam; menahan gigil, mendekap bisu, memeluk beku, megusir ragu. Kupanggil dari kejauhan. Tak ada sahutan, suaraku tertelan oleh teriakan-teriakan. Bising di sana membuat pusaran; Aku atau Kamu! Tak adakah pilihan kembali seiring sejalan, menyulam langkah seirama, mengunyah tawa bersama, dalam renyah canda yang mesra? Kudengar, ketukan waktu kian mendekat. Kulihat, orang-orang berbaju cokelat sibuk bertanya, orang-orang berjubah hitam bergegas memegang palu --bersiap memutus rantai yang mulai berkarat, menggalikan lubang untuk persaudaraan yang sekarat. Dalam doa yang kaku, kutekuk wajah yang tetap tak mampu menikam rindu. Nanar menatap dalam bening yang hangat, ku berbisik lekat pada nama yang bersekat,

Tapis Blogger Gathering 2: Berjuta Kesan Rasanya

Tapis Blogger Gathering 2 – Minggu, 21 Januari 2017. Kali kedua Tapis Blogger menggelar acara gathering, yang juga mengawali kegiatan komunitas ini di tahun 2018, setelah sebelumnya sukses menghelat acara yang sama untuk yang pertama di bulan Desember tahun lalu. Acara kali ini buat saya terasa banget kekeluargaannya, meski esensi untuk berbagi ilmu tetap menjadi yang utama. Ya, dengan model lesehan, kita bisa berbincang lebih dekat dengan sesama blogger di komunitas ini. Mendengar cerita, juga tips bermanfaat. Apalagi edisi makan siang ala nyeruit yang seru di siang tadi. Wah, kerasa banget muatannya. Pertama, muatan yang harus dipindahkan dari nampan yang penuh berisi ikan bakar dengan segala kelengkapannya. Kedua, obrolan bernas dari Kak Yoga tentang jurus ngeblog-nya, juga Mas Trie dengan pengalaman fotografinya.  Lapar dan dahaga terurai perlahan bersama suapan demi suapan yang terus diayunkan dari tangan ke mulut. Hmm, bukan apa-apa. Ini banyak banget porsinya.