Skip to main content

Yogya, Aku Datang Melangitkan Asa

 


Yogya, Aku Datang Melangitkan Asa


Yogya, Mimpi 16 Tahun Lalu..

Kisah ini, bermula dari mimpi 16 tahun lalu. Tentang cita-cita untuk bisa menjejakkan kaki dan menimba ilmu di sini, di kota yang mahsyur dengan sebutan “kota pelajar”, Yogyakarta. 

Saat berseragam abu-abu itu, keinginan terasa begitu kuat. Hingga lebih memilih merubah pilihan pertama hasil konsultasi penjurusan PTN dengan tentor pembimbing di Bimbel tempat saya belajar. Dari Bio Kimia IPB, menjadi Teknikk Elektro UGM. Ya, tepat pada detik-detik akhir sebelum mengumpulkan formulir pilihan jurusan, saat akan mengikuti SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) pada tahun 2002.

Meski lulus SMPB, ternyata doa untuk bisa belajar di kota ini belum terkabulkan, "hanya' lulus di pilihan kedua. Mungkin doa itu masih Allah Swt simpan di suatu tempat. Dan harus menerima kenyataan, untuk tetap belajar di tanah kelahiran, provinsi Lampung tercinta. Sempat merasakan kecewa, tapi akhirnya belajar untuk terus memeluk kesyukuran, dalam setiap peristiwa.

“Meski tak selalu memberikan yang kamu inginkan, Allah Swt pasti selalu memberikan yang terbaik,” begitu pesan terdalam yang hingga kini masih terus mengiang di telinga saat menghadapi situasi yang kadang tak bisa dimengerti oleh hati.

Dan kini, doa yang terpintal belasan tahun lalu itu, menjelma menjadi sesuatu yang nyata. Allah Swt angkat kembali, melalui jalan yang tak pernah disangka, dengan lika-liku yang akhirnya membuat jiwa ini semakin meyakini, bahwa “tangan” Tuhan selalu ada di setiap skenario takdir yang kita lewati. 

Sebelumnya, tak pernah terimpikan untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang S2. Mungkin karena saya tidak menjalani pendidikan S1 dengan baik. Sehingga memunculkan trauma tersendiri untuk mengulang kembali proses belajar di bangku perkuliahan. Bahkan merasa bersalah dengan dosen-dosen yang telah memberikan support dengan begitu luar biasa waktu itu.

Hingga dua setengah tahun yang lalu, arah takdir memutar hidup saya untuk menjadi seorang abdi negara, PNS di pemerintah provinsi tempat saya tinggal. Jalan takdir ini ternyata membuka pintu kehidupan yang lain, salah satunya adalah mulai munculnya keinginan untuk melanjutkan pendidikan S2.

Melihat pengalaman teman, berdiskusi saat-saat berkumpul bersama, dan mencoba menuliskan ulang mimpi, hingga cikal niat untuk melanjutkan pendidikan itu menjadi seperti benih yang disemai. “Bismillah, saya akan melanjutkan S2 dengan mencari beasiswa insya Allah,” pikir saya waktu itu.

Karena dengan beasiswa, selain keringanan dalam proses pembiayaannya, juga memberikan kesempatan tersendiri untuk belajar di universitas terbaik di negeri ini. Meski belum tahu bagaimana jalannya dan apa yang harus dilakukan. Cukup niat saja terlebih dahulu dan membuat check list mimpi seperti sering diajarkan para motivator sukses.

Mulailah saya mencari informasi terkait beasiswa pendidikan S2, khususnya untuk yang berprofesi sebagai PNS. Menjelajahi informasi di dunia maya, berdiskusi dengan teman tentang aturan yang harus dipenuhi, hingga memburu pengalaman mereka yang sudah pernah menjalankan tugas belajar untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang S2. Akhirnya, satu program beasiswa menjadi rujukan dan target, Program Beasiswa Pusbindiklatren Bappenas.

Sebuah program beasiswa yang disediakan untuk para PNS, khususnya staf perencanaan di masing-masing instansi, baik instansi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, untuk melanjutkan pendidikan S2 dan S3 untuk universitasi di dalam negeri, linkage (satu tahun di universitas dalam negeri dan satu tahun di universitas luar negeri), dan reguler (kuliah penuh) di luar negeri.

Sejak saat itu saya mulai rajin meng-update informasi terkait dengan beasiswa ini, termasuk mencari informasi pendukungnya, semisal batasan masa kerja minimal untuk diperbolehkan mendapatkan tugas belajar, syarat apa saja yang harus disiapkan dll. Dan mungkin disinilah takdir bekerja dengan sempurnanya melalu izin dari “penulis’-nya.

Atau dalam pepatah lawas yang dulu sering saya baca di quote bagian bawah buku tulis saat SMA atau kuliah, “Where there’s a will, there’s a way.” Ya, saya yang dahulu merasa sangat jauh untuk bisa bermimpi melanjutkan pendidikan S2, sekarang seolah jalan tersebut dibukakan dengan lebar oleh Allah Swt.

Seorang teman PNS, yang juga satu angkatan saat SMA dahulu, ternyata mendaftar pada beasiswa yang sama yang saya tuju tersebut. Dan dia sukses melewati semua tesnya hingga lulus dan mendapatkan full scholarship dari Bappenas untuk melanjutan pendidikan S2 di salah satu universitas di Jepang.

Wah, mendengarnya terasa membahagiakan dan sangat luar biasa. Ini seolah menjadi penyemangat tersendiri buat saya, juga seperti sebuah tanda bahwa jalan yang akan saya tempuh ini adalah jalan yang tepat.

Akhirnya, semangat itu semakin terkumpul dan menumpuk. Membuat saya mulai ancang-ancang dari jauh hari untuk mempersiapkan tes yang harus diikuti untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Masih satu tahun sebelumnya waktu itu, untuk waktu tes yang saya perkirakan akan diadakan oleh Pusbindiklatren Bappenas pada bulan Oktober 2017, dengan melihat jadwal tes di tahun-tahun sebelumnya.

Saya awali persiapan saya dengan meminjam buku dari seorang teman yang baru lulus tes untuk melanjutkan pendidikan S2 di sebuah universitas di Bandung, buku TPA (Tes Potensi Akademik) danTOEFL (Test Of English as a Foreign Language).

Hingga akhirnya tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Bulan-bulan berlalu dengan seperti lembaran kertas yang digulung oleh tangan yang tak terlihat. Mengantarkan saya untuk harus memulai perjuangan ini dengan lebih sungguh-sungguh.

Ya, waktu pendaftaran telah dibuka, Program Beasiswa Pusbindiklatren Bappenas Tahun 2018, oleh sebuah surat penawaran program beasiswa ini yang dirilis pada tanggal 27 Juli 2017 di website resmi mereka http://pusbindiklatren.bappenas.go.id/ yang rajin saya kunjungi beberapa bulan terakhir ini.

Awal perjuangan ini menemukan garis start-nya, seperti sebuah perlombaan lari marathon. Karena jika dihitung dari sisi waktu, maka dari awal pengumuman pendaftaran program sampai dengan pemberitahuan kelulusan kira-kira mencapai waktu 6 bulan lamanya.

Proses yang membutuhkan stamina dan simpanan energi tersendiri untuk bisa melaluinya dengan baik. Apalagi sebagai seorang PNS, kita juga melalui hari-hari kerja yang seringkali hanya menyisakan sedikit waktu luang untuk mempersiapkan diri menghadapi tes dan persiapan berkas yang dibutuhkan.

Persiapan dimulai dengan mengumpulkan dan membuat berkas yang dibutuhkan. Dari salinan SK PNS, ijazah S1, surat izin dll. Lalu dilengkapi dengan pendaftaran online di website Pusbindiklatren Bappenas. Nah, pada saat pendaftaran online ini, jurusan dan program S2 yang akan dipilih harus sudah ditentukan.

Tak ayal, ini membuat kebingungan tersendiri, karena meski sudah mengazamkan tekad untuk berjuang, masih tersisa rasa tidak percaya diri menentukan pilihan. Hingga akhirnya, saya berkonsultasi dengan seorang atasan Eselon IV di kantor saya, yang juga pernah mengikuti program beasiswa ini.

Beliau menyarankan saya untuk mengambil program Linkage MPKD (Magister Perencanaan Kota dan Daerah) UGM-Jepang. “Kamu pilih jurusan itu saja, Rif. Bagus itu nanti untuk kedepannya dan pasti akan banyak dipakai dan bermanfaat,” ujar beliau, Mbak Suci namanya.

“Waduh, saya gak pede Mbak buat ngambil jurusan itu, apalagi program linkage. Lagian MPKD kan basic-nya banyak di Teknik Sipil atau PWK, takut gak kuat. Apalagi program yang linkage Jepang, Mbak..,” ujar saya mengungkapkan kegalauan. Memang untuk beasiswa Bappenas ini, jurusan yang akan dipilih sudah ditentukan oleh Bappenas sendiri. Dan sebagian besar adalah jurusan yang terkait dengan studi perencanaan.

Untuk Univeristas Gadjah Mada (UGM) sendiri hanya ada tiga jurusan; Magister Administrasi Publik (MAP), Magister Ekonomi Pembangunan (MEP), dan Magister Perencanaan Kota dan Daerah (MPKD). Sebenarnya dari ketiga jurusan ini, tidak ada yang linear dengan jurusan pada saat saya kuliah di jenjang S1.

“Sudah, dicoba dulu aja. Kawan Mbak dulu lulusan Fakultas Pertanian juga bisa kok ngambil jurusan itu, dan yang linkage juga,” ujar Mbak Suci memotivasi. Hingga akhirnya, saya menguatkan diri untuk mencoba.

“Iya Mbak. Insya Allah saya ambil program linkage MPKD. Bismillah,” sambil berdoa menguatkan hati. Jujur, dulu berpikir untuk melanjutkan pendidikan S2 saja tidak pernah, apalagi sekarang memutuskan mengambil program yang satu tahunnya di universitas luar negeri. Rasanya itu takut, nekat, tapi juga penuh doa dan harapan.


Memilih Tak Menyerah: Perjuangan Melaui Tes Potensi Akademik (TPA)

Alhamdulillah, pemberkasan telah saya rampungkan. Atasan saya memberikan dukungan penun kepada saya untuk melanjutkan studi S2, juga membantu kemudahan dalam pembuatan beberapa surat yang diperlukan.

Berkas dalam amplop coklat itu telah lengkap dengan alamat Pusbindiklatren Bappenas, siap untuk dikirimkan melalui Kantor Pos. Dan sore itu, sepulang waktu kerja, saya menuju salah Kantor Pos di Kota Bandarlampung, yang jam bukanya sampai dengan malah hari. Dan akhirnya, berkas itu selesai dikirimkan, dan tinggal menunggu pengumuman seleksi berkas.

Senin, 2 Oktober 2018, surat pengumuman hasil seleksi berkas, sekaligus Surat Pemanggilan untuk Tes Potensi Akademik (TPA), di-posting oleh panitia di website Pusbindiklatren Bappenas. Dan Alhamdulillah, dan seorang teman dekat saya, masuk dalam pengumuman ini. Jadwal tes diumumkan akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Oktober 2017.

Mulailah mempersiapkan diri lebih intens, meski sebelumnya telah mencoba menyisihkan waktu yang ada untuk persiapan tes ini. Beberapa buku yang dibeli, coba lebih didalami. Jika ada waktu senggang di akhir pekan, mencoba digunakan semaksimal mungkin untuk berlama-lama dengan buku-buku tebal itu. Tak lupa, memperbanyak berdoa, juga meminta banyak doa dari teman-teman, keluarga, khususnya juga kepada kedua orang tua.

Pada Kamis malam, 12 Oktober 2017, menggunakan bus DAMRI dari Bandarlampung, saya dan salah seorang teman baik saya yang juga ikut tes, Bang Andi, menuju Kota Depok, Jawa Barat. Lokasi tes sudah ditentukan oleh panitia, dan kami ditempatkan di Universitas Indonesia Depok, Jawa Barat. Alhamdulillah, meski melelahkan, perjalanan berjalan lancar. Kami sampai di hotel menjelang waktu Ashar, untuk beristirahat dan persiapan akhir untuk esok hari.

Hingga akhirya, tibalah waktu ujian itu, Sabtu, 14 Oktober 2017, pukul 08.00 Wib di Auditorium Soeria Atmadja, Gedung Pertemuan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok. Dan dimulailah perjuangan itu.


**

Sebuah catatan. 

Sabtu, 14 Oktober 2017, Depok.


Waktu bergerak cepat. Detik-detik bagai berlarian kencang. Begitupun menit yang berjingkatan riang. Saling berkejaran dalam putaran jarum jam.

250 soal, 180 menit. Benar-benar tes yang menguji banyak hal. Kecepatan, ketepatan, kesabaran, mental dan daya tahan. Dan satu hal yang tak saya prediksi, tingkat kesulitan soal yang di atas rata-rata.

Saya sudah membaca dan berlatih dengan empat buku berbeda. Mempelajari teorinya, mengerjakan latihan soalnya, juga melakukan simulasi Try Out real-nya. Tapi semua seolah tak berarti.

Sejak soal bagian pertama, pipi saya seperti ditampar bolak-balik. Panas rasanya. Semakin mengerjakan, semakin keras tamparannya.

Benteng mental yang saya miliki seolah dilontari batu-batu besar menggunakan mangonel --alat pelontar batu jaman perang dahulu. Meninggalkan lubang menganga dan remuk redam di sana-sini.

Memasuki soal bagian kedua, kesulitannya semakin "menggila". Bisa dibilang, tingkatannya dua sampai tiga kali dari latihan yang saya kerjakan. Meninggalkan banyak bulatan kosong di lembar jawaban.

Keyakinan saya rasanya ambrol pada titik nadir. Ditengah waktu yang terus berhitung mundur, justru di sana saya berhenti dan meratapi diri, "Begini rasanya jadi orang bodoh."

Hanya bisa menatap deretan soal dengan pandangan kosong jauh menembus lembaran kertas, "Untuk apa dilanjutkan jika kita tahu akan gagal?"

Disaat kepala terasa makin berat, saya sejenak berkontemplasi. Menenangkan diri, mengumpulkan semangat yang tercabik-cabik.  Lalu mencoba menyalakan lagi api mimpi yang mulai meredup padam.

"Takdir belum tertulis, sebelum waktu mengerjakan soalmu habis." Begitu saya berkata pada diri sendiri.

Bismillah, saya menguatkan tekad. Kalah atau menang, tugas kita adalah berusaha. Berhasil atau gagal, berjuang sampai akhir tetaplah pilihan terbaik.

Memasuki bagian ketiga, semakin banyak soal yang bisa saya kerjakan. Saya tersenyum. Terus menyemangati diri sampai waktu hitung mundur yang dimiliki panitia berhenti.

Akhirnya sampai juga pada bulatan hitam terakhir. Selesai. Saya pun mengusap lelah sembari menyelipkan doa. "Pilihkan takdir terbaik-Mu, Ya Rabb."


**

Dua pekan setelahnya. Saat sedang beristirahat disela asyiknya bermain badminton bersama teman-teman di Sabtu pagi. Sebuah pesan WA muncul di layar handphone. 

"Rif, pengumuman tes beasiswa sudah keluar ya?" Tanya seseorang. "Sebentar Mbak, saya cek dulu." Segera saya meluncur ke website Pusbindiklatren Bappenas. Kemudian mengunduh lampiran file yang ada pada surat pengumuman hasil tes tertanggal 25 Oktober 2017 itu.

Di laman Pdf itu, saya ketik kata kunci "Lampung" di bagian tools pencarian. Dag dig dug rasanya. Dan rasanya tak percaya, nama saya muncul di barisan yang ter-back light kuning hasil pencarian yang saya lakukan. Tersaring dari 1000-an peserta secara nasional.

Sembari bersyukur, saya mengirim pesan, “Alhamdulillah Mbak, saya lolos tahap pertama,” lengkap dengan emot senyum bahagia. Alhamdulillah, senangnya. Terima kasih ya Allah. :’) 


Memilih Tak Menyerah (2): Selesaikan Perjuangan Hingga Soal Terakhirmu

Setiap kita pasti pernah bergelut dengan sebuah ujian atau tes. Apakah saat studi atau mencari pekerjaan. Tes yang membuat kita harus bersaing dengan peserta yang lain, karena kita berebut tempat yang sama. Tempat yang terbatas jumlahnya sementara peminatnya jauh lebih banyak.

Seperti hukum supply and demand, jika permintaan melimpah sedangkan barang yang sangat dibutuhkan terbatas, tentu akan terjadi "perebutan". Akibatnya, harga menjadi mahal. Begitu juga dengan ujian yang kita lalui, semakin prestise tempat yang akan diraih, semakin berat perjuangannya.

Pertanyaannya adalah, seberapa jauh kita mampu bertahan dan terus melangkah untuk tujuan tersebut? Karena terkadang, tujuan besar kita tak diiringi dengan usaha yang sama besarnya. Bahkan ada yang memilih untuk menyerah sejak awal, saat perlombaan belumlah usai.

Hingga akhirnya, mereka yang terus berjuang hingga akhirlah yang akan sampai pada garis finish dari perlombaan itu. Sebuah perlombaan yang akan menentukan, siapa yang berhak mendapatkan, dan siapa yang harus mengulang kembali prosesnya dari awal.

Sabtu, 11 November 2018, adalah kelanjutan dari tahapan pada seleksi Program Beasiswa Pusbindiklatren Bappenas 2018 ini. Di pekan menjelang tes kedua ini, menjadi hari-hari yang padat, baik aktivitas kerja maupun persiapan tesnya sendiri. Menyisipkan setiap waktu yang ada untuk mencoba menjejalkan materi TOEFL, yang merupakan tes tahap akhir dari proses seleksi ini.

Sepulang kerja, saat keletihan seolah menguliti badan dan pikiran, sebisa mungkin untuk terus berusaha mengunyah materi demi materi yang terkadang terasa hambar untuk dipaksakan masuk ke otak yang sudah jenuh. “Tapi tak apalah, lebih baik mengusap keringat saat berlatih, dibanding mengusap air mata saat pengumuman datang,” ujar saya menyemangati hati.

Toh jika nantinya tetap gagal juga setelah peluh yang menetes deras dalam persiapan yang panjang ini, ya, tak apa. Itu artinya takdir terbaik kita belum disana. Menggubah kata-kata Tere Liye, "Aku takkan menyesal karena sebuah perjuangan yang tak berakhir manis, tapi aku akan tersenyum karena telah berjuang dengan penuh optimis.”

Hari tes TOEFL itu akhirnya datang. Setelah persiapan instensif secara mandiri dalam beberapa pekan, saya, bersama seorang teman, menuju kota ini kembali untuk mengikuti tes di Universitas Indonesia Salemba, Depok. Menjejakkan kaki untuk kedua kalinya di tempat ini, untuk berjuang hingga akhir.

Di Sabtu pagi itu, kami melangkahkan kaki dengan penuh doa. Berharap yang terbaik dari usaha yang telah kami lakukan. Saya, yang memilih Program Linkage MPKD UGM-Jepang, harus melewati batas minimal TOEFL dengan nilai 500. Satu titik nilai yang buat saya sendiri, sangat tinggi.

Maklum, sejak SMP sampai dengan duduk di bangku kuliah, saya hanya mengenyam soal-soal Bahasa Inggris di bangku pendidikan formal saja. Selebihnya, ditambah dengan belajar mandiri atau otodidak. Tanpa pernah menekuninya lebih dalam di tempat-tempat kursus favorit.

“500. Ini misi yang berat. Kamu tak akan kuat. Biar aku saja.” Mungkin begitu jika Dilan yang menjalaninya. Hee. Terakhir sekali saya mengikuti tes TOEFL adalah menjelang kelulusan di jenjang S1, dengan nilai 453. Setelahnya, tidak pernah lagi belajar secara khusus. Beberapa kali mencoba untuk tes mandiri dengan buku yang ada, nilainya pun tidak mencapainya.

Tes TOEFL PBT ini terdiri dari tiga bagian; Listening, Grammar and Structure, dan Reading. Dalam proses latihan, nilai yang saya khawatirkan paling rendah adalah Grammar and Structure. Oleh karenanya, sampe H-1 saya lebih banyak memfokuskan diri untuk mempelajari ini.

Tapi ternyata, pada saat Hari-H, justru bagian Listening yang membuat saya kliyeng-kliyeng alias pusing tujuh keliling. Mirip saat tes tahap pertama, tes TPA, justru pada bagian pertama ini menjadi bagian yang mengejutkan dan bukan hanya membuat kehilangan fokus, tapi juga memukul mundur keyakinan yang sudah disiapkan sebaik-baiknya.

Rasa ingin menyerah, menyudahi perjuangan, menjadi tantangan tersendiri. Ditambah lagi dengan kondisi fisik yang tidak dalam kondisi yang baik. Saya belum pernah merasakan tes yang terasa berat seperti ini secara psikis juga fisik. Punggung dan leher serasa akan kram. Bahkan saat mencoba stretching ringan untuk sekedar melemaskan otot punggung dan leher, malah seolah akan kram. Jadi dalam 3 jam tes itu terus bertahan dengan kondisi yang ada.

Ingin rasanya berhenti dan menyatakan sudah saja, cukup, soalnya terlalu berat, targetnya terlalu tinggi. Tapi di sisi lain, ada suara yang tak kalah keras menyemangati. “Selesaikan perjuangan hingga soal terakhirmu. Lakukan yang terbaik, setelah itu biarkan takdir yang menentukan titik keberadaan dirimu selanjutnya.”

Tak boleh ada kata menyerah saat tangan dan pikiran masih bisa digerakkan. Perjuangan sudah berjalan sejauh ini, maka harus dituntaskan. Urusan hasil? Biar Tuhan yang menentukan. Pilihannya takkan pernah salah untuk selalu memberika  yang terbaik untuk kita.

Akhirnya, bulatan-bulatan kosong dalam lembar jawaban itu terisi penuh. Menjadi bulatan-bulatan hitam yang membuat pola acak, dari atas ke bawah. Mirip jalan takdir yang kadang juga dilalui secara acak, meski banyak hal sudah direncanakan dengan baik. Alhamdulillah, satu proses kembali usai. Kini, tinggal memperbanyak melangitkan doa, agar pinta menjadi nyata. Agar apapun pilihan yang Allah Swt berikan, dapat diterima dengan lapang dada.


Bu Indah, pembawa kabar yang indah

Menjelang waktu sholat Ashar sore itu, Kamis, 11 Januari 2018. Kantor mulai sepi, menyisakan beberapa orang saja yang tetap setia bergelut dengan pekerjaannya, menjadi para penghuni terakhir di hari itu.

Saat sedang bersiap menuju masjid untuk menunaikan rindu dengan-Nya, ada dering panggilan masuk ke handphone yang ada di kantong. Tanpa menunggu lama, saya ambil dan perhatikan sejenak nomor telepon yang masuk.

Sekilas saya baca, (0724)-xxx-xxx. Tumben ada nomor telepon rumah atau kantor yang masuk. Jaman sekarang rasanya sudah sangat jarang sekali digunakan kecuali untuk kepentingan tertentu. Saya mencoba mengingat, “Oh, nomor ini kode area Kota Metro (salah satu kota di provinsi Lampung),” saya membatin.

“Mungkin teman saya yang berasa dari Metro yang sedang menelepon dari kantornya,” lanjut saya menebak. Lalu saya angkat panggilan telepon itu dan mengawalinya dengan mengucap salam.

“Mohon maaf sebelumnya, ini dengan Bapak Arif Budiman?” Suara seorang perempuan di seberang sana terdengar ramah.

“Iya benar, bagamana Bu, ada yang bisa dibantu”?

“Iya, saya dari MPKD UGM, saya ingin mengabarkan bahwa tes beasiswa Bappenas Anda pada MPKD UGM dinyatakan lulus, dan hari ini telah diadakan serah terima dari Bappenas ke UGM. Oleh karenanya kami ingin mengonfirmasi seluruh peserta yang ada, untuk memastikan beasiswa tersebut akan diambil.”

DEG! Saya terkejut bukan kepalang. Ini mimpi, atau nyatakah? Saya masih belum yakin. Ada shock singkat yang membuat saja diam sejenak. Seperti diberi sebuah hadiah tak ternilai dengan sangat tiba-tiba. “Oh, iya Bu, saya siap melanjutkannya.” Ujar saya dengan gugup dan sedikit gagap.

Langsung saja, rasa syukur tidak terkira memenuhi seluruh jiwa dan raga. Perasaan bahagian yang tak terkira. Tak terasa bahkan, ada air mata yang menetes perlahan di sudut pipi. “Ya Allah, Engkau berikan anugerah yang begitu besar kepada hamba-Mu yang dhaif dan sering berbuat salah ini..” 

“Oya, saya lupa mengucapkan selamat sebelumnya. Selamat ya buat Mas Arif. Atas keberhasilannya meraih beasiswa ini. Jika ada yang ingin ditanyakan, nanti bisa menghubungi saya. Mungkin bisa mencatat nama dan nomor handphone saya. Nama saya Indah. Nomor HP (0812)-xxxx-xxxx. Oke, terima kasih banyak Mas Arif,” tutupnya.

Dan tiba-tiba saya teringat untuk mengecek nomor telepon yang tadi masuk. Oh, ini bukan (0724)-xxx-xxx. Ternyata ini (0274)-xxx-xxx, kode area Yogyakarta, bukan Metro. Dan saya pun tersenyum simpul dengan hati bersenandung riang. Terima kasih Bu Indah, yang telah membawa kabar yang indah.  Alhamdulillah :’)

***

Comments

Popular posts from this blog

Degan Bakar : Hangat dan Penuh Khasiat

Degan Bakar | Dokumentasi Pribadi Well , ini postingan pertama saya setelah sekian lama tak mengunjungi blog ini. Blog yang niat awalnya dibuat agar rajin nulis. Eh ternyata istiqomah itu emang gak gampang. Sedikit curhat yaa.. Hee.  Btw , sekarang saya lagi ikutan kelas Ngeblog Seru yang dikelola Mbak Naqi, salah satu founder Tapis Blogger. Di kelas ini, kita dapet materi dasar tentang ngeblog, juga sharing ilmu dari peserta lainnya. Oya, kelas ini memakai WhatsApp Group (WAG) sebagaimana kelas-kelas materi online yang sekarang lagi ngetren.  Nah, kami diberi tugas pertama untuk membuat artikel bertemakan kuliner. "Boleh apa saja, nanti akan di-review," ujar Mbak Naqi sebagai mentor kami. Akhirnya, setelah membuat beberapa alternatif ide, saya pilih degan bakar sebagai sajian spesial.  Sepulang kerja sore ini, saya bergegas menuju lokasi. Tempatnya tepat di samping kiri Chandra Kemiling.  Cusss.. Alhamdulillah, warungnya buka. Asap putih mengepul dari te