Skip to main content

Menulis..Yuuukk!!!



Entah kali keberapa saya berpikir. Mengapa perlu menulis. Pentingkah menulis. Apa manfaatnya. Kadang, susah menjawab pertanyaan sendiri. Tapi mungkin bisa dibantu dengan jawaban orang lain. Dari apa yang saya dengar atau baca.

Sebagian orang bilang. Menulis bukan saja aktivitas merangkai kata menjadi kumpulan kalimat. Hingga kemudian bisa dibaca. Bagi sebagian orang, menulis adalah cara berdialog dengan diri. Menemukan sisi hati yang kadang berbeda.

Sebagian menjadikan tulisan sebagai pelepas beban hidup. Seperti menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan kuat-kuat. Ada kelegaan yang luas di rongga dada ini.

Sebagiannya lagi bilang, menulis adalah cara untuk bercerita. Menumpahkan kesah, menuangkan sedih bahkan menumpahkan air mata. Dan mereka bilang, dengan itu aku mengerti tentang hidupku sendiri.

Sebagian yang lain mengatakan, menulis untuk menyampaikan gagasan, ide, tentang tema-tema yang bermanfaat bagi kemajuan bersama.

Sebagian bilang menulis adalah cara mewariskan sejarah. Kisah heroik dari masa kebangkitan hingga kejayaan, ditutup dengan cerita pilu saat keruntuhan. 

Hingga setiap anak-anak yang terlahir mengerti siapa Soedirman, Soekarno, Hatta, Bung Tomo. Atau bahkan kisah kolosal era kerajaan. Diponegoro, Pattimura, Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, Gajah Mada, Sriwijaya. 

Dan bagi saya, menulis adalah tradisi yang harus dimulai. Tradisi belajar. Belajar mengungkap pendapat. Belajar menyesap pesan kehidupan. Belajar menangkap petikan makna. Tradisi belajar yang juga harus diikuti dengan tradisi membaca. Membaca secara tekstual juga potret kehidupan yang seringkali luput oleh kita.

Lalu apa yang harus saya tulis?
Maka saya menulis apa saja. Dimana saja. Kadang inspirasi itu datang begitu saja. Kadang juga susah menangkapnya. Pernah menulis tentang sebuah kegiatan. Baik saat dulu bersama FKAR atau Hafara. 

Our Chirpstory : di ujung letih yang menyimpul senyum:) | lengkung senyum diujung pelangi’, ‘Isra Miraj, Ciwidey dan sebuah Inspirasi’, serta ‘Pecel, Tempe Mendoan dan Toga Wisuda’, adalah beberapa tulisan yang pernah saya buat untuk Hafara. 

Kadang berpikir kalo nanti tulisan saya jelek dan ditertawai. Haha. :D Ini bagian paling sentimentil. Bagi pribadi perasa, memunculkan tulisan adalah salah satu keputusan besar. Banyak rasa. Malu, merasa tak perlu, ragu, nanti tak bagus, aneh, lucu, jelek dan rasa-rasa lainnya.

Tapi semuanya menjadi ringan buat saya karena memahami ini proses belajar. Ya. Belajar. Satu kata yang membuat semuanya 'boleh'. Boleh salah. Boleh keliru. Boleh belepotan. Boleh jelek. Boleh aneh. Boleh rancu. Boleh tak mengikuti kaidah. Dan boleh-boleh yang lain. 

Seperti slogan sebuah iklan yang selalu saya ingat sejak SMA, ‘kalo gak ada noda ya gak belajar’.. dan era kini dengan versi, ‘berani kotor itu baik’

So, Menulis..Yuuukk!!!

Comments

  1. Replies
    1. Hhaa, terima kasih Broo.. udah jadi orang pertama yang kasih komen di blog ini.. senengnyaa.. hee.. makasih makasihh..

      iya nie, ayooo menuliss.. saya masih belajar nihh

      Delete
  2. K uud tulisannya bagus, lanjutkan

    ReplyDelete
  3. Kang Arif, lanjutkeun.
    Hehe..ane juga insyaAllah ikutan menulis, sekali2 kunjungi juga kang blog ane ya di benisumarlin.com
    Salam ukhuwah dr Bengkulu, rindu weh balik ke lampung. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahh, oke siap mas Beni, ane newbie nih hee. Bisa share ilmu nanti yaa :)

      Hohoo, kapan-kapan maen lagi mas ke Lampung.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

AHOK dan INKONSISTENSI

Publik gempar. Masyarakat luas geram, gerah, marah dan meradang. Ragam komentar keras muncul dari tokoh-tokoh agama, hukum, lintas partai, ormas juga tokoh politik atas 'aksi' Ahok kali ini. Bersama tim penasehat hukumnya, Ahok mempertontonkan sikap tak beretika kepada ketua MUI, KH. Ma'ruf Amin.  Sosok ulama yang sangat dihormati dan disegani oleh umat Islam, yang juga menempati posisi tersendiri di hati para nahdiyin. Peristiwa yang terjadi pada sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Sikap yang cenderung menyudutkan, merendahkan, tak beretika, membuat pertanyaan berulang di luar substansi, menudingkan kebohongan, hingga ancaman proses hukum kepada KH Ma'ruf Amin tersebut membuat emosi umat Islam kembali terpantik. Bagai jerami kering yang ditaburi bara api.  Dari salah satu portal berita online  nasional yang ada dapat diketahui bahwa pada awalnya Ahok tidak merasa bersalah dengan hal tersebut, juga tidak te...

Bersuaralah Kata-kata

Bersuaralah Kata-kata | Dokumentasi Prbiadi Benar katamu. Hujan tak menghalangi. Ia hanya membasahi.  Seperti sore ini. Pemilik jiwa-jiwa tulus itu memilih diam tak beranjak. Memilih sabar tak melangkah. Memilih bersama derai hujan yang membasahi. Lihatlah. Ada yang berpayung. Bermantel hujan. Atau lebih suka berbasahan. Menikmati hujan yang mengantarkan keberkahan. Saat pintu langit terbuka. Bagi doa-doa untuk saudara kita di Palestina. Di panggung orasi. Hujan justru menyemangati. Maka bersuaralah kata-kata. Untuk membuat dunia tahu bahwa Palestina ada.  Maka bersuaralah kata-kata. Untuk membuat dunia mengerti bahwa Palestina tak sendiri. Boleh Amerika menganggap dirinya negara digdaya. Tapi ada saatnya kelak, kedigdayaan akan bertekuk lutut di hadapan tekad yang membaja.  Siapa yang menyangka kisah Raja Abrahah dengan pasukan gajahnya, berakhir di tangan si kecil Ababil? Sebuah tanda bahwa kuasa manusia hanyalah secuil. ...

Tapis Blogger Gathering : Serunya Ngeblog Sebagai Hobi, Profesi dan Ruang Berbagi

Pembukaan Tapis Blogger Gathering | Dokumentasi Pribadi Minggu, 17 Desember 2017. Hari libur yang dinantikan karena akan ada acara keren dan full manfaat. Yaps. Tapis Blogger Gathering namanya. Acara ini diadakan oleh komunitas Tapis Blogger untuk para anggotanya dan juga terbuka untuk umum. “Menjadikan Ngeblog Sebagai Hobi, Profesi, dan Ruang Berbagi,” begitulah tema yang diusung pada acara ini. Acara yang diselenggarakan di Secret Garden Foodcourt, Jalan Zainal Abidin Pagar Alam, diisi oleh tiga narasumber yang sangat mumpuni di bidangnya. Kalau istilah para bloger, mastah. Ada Naqiyyah Syam, Heni Puspita, yang keduanya merupakan founder Tapis Blogger. Dan pemateri ketiga adalah Agustinus Leandro, salah satu mastah blogger Lampung yang sudah menggeluti dunia blogging sejak tahun 2006. Sejak pagi hari, Mbak Naqi, saya biasa memanggilnya seperti itu, sudah woro-woro ke para peserta untuk bersiap-siap untuk acara ini. Memberi reminder agar peserta tidak terlambat dan m...